Cerpen: harun dan Musik

Oleh Arifin Gani
Adalah seorang saudagar kaya raya yang hidup ratusan sahun yang lalu. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Harun. Saudagar ini menginginkan Harun kelak menjadi saudagar pula seperti dirinya. Karena itu setiap hari Harun diajari ilmu dagang. Harun sebenarnya tak mau jadi saudagar. Ia lebih suka musik. Tapi ia tak berani membantah ayahnya.
Suatu haru Harun dipanggil ayahnya.
“Aku merasa kau sudah cukup besar dan mampu berdagang. Aku sudah mengajarkan ilmu-ilmu dagang padamu. Berniagalah ke selatan. Aku akan memberimu sekantung uang emas sebagai modal. Tahun depan engkau harus kembali kemari untuk menunjukkan apa saja yang telah kau peroleh dalam perniagaanmu,” perintah ayah harun.
Seperti biasa, Harun tak bisa membantah.
“Baiklah, ayah. Akan saya laksanakan perintah ayah.”
Berangkatlah harun ke Selatan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh tibalah ia di sebuah pasar. Pasar itu ramai sekali. Harun melihat sekelompok orang berkerumun. Didekatinya kerumunan itu. Rupanya orang-orang sedang menonton seorang laki-laki bermain seruling. Tiupan seruling laki-laki itu merdu sekali hingga Harun kagum dibuatnya. Penonton bertepuk tangan, lalu melemparkan kepingan-kepingan uang perak ke atas tikar pemain seruling itu.
“Mengagumkan,” gumam Harun. “Aku ingin bisa bermain seruling seperti dia.”
Ketika kerumunan penonton bubar, Harun menghampiri pemain seruling itu.
“Saya mengagumi kepandaian Tuan bermain seruling,” puji Harun.
“Aku memang peniup seruling terbaik di negeri ini, Nak,” ujar si Pemain seruling bangga.
“Maukah Tuan mengajari saya bermain seruling? Saya bersedia membayar Tuan dengan sekantung uang emas,” tawar Harun tanpa ragu.
Pemain seruling itu setuju. Maka mulailah harun belajar bermain seruling. Karena ia memang menyukai musik dan berlajar dengan sungguh-sungguh dalam waktu singkat ia berhasil menyelesaikan pelajarannya.
“Ternyata kau anak pandai. Kau berbakat menjadi seorang pemusik, anak muda,” kata si Peniup seruling.
“Semua kepandaianku sudah kuajarkan padamu, karena itu kau boleh pergi sekarang. Bawalah serulingku ini sebagai kenang-kenangan.”
Setelah mengucapkan terima kasih Harun melanjutkan perjalanannya. Beberapa hari kemudian ia tiba disebuah dusun kecil. Ada sebuah rumah kayu di pinggir jalan. Harun mendengar alunan suara yang sayup-sayup dari rumah kayu itu. Ia lalu mengintip lewat jendela rumah itu. Tampak seorang laki-laki sedang bermain sitar, sebuah alat petik petik yang mirip dengan gitar.
“Oh, rupanya suara alat musik itu,” gumam Harun.
Diperhatikannya permainan laki-laki penghuni rumah itu. Petikannya begitu lincah, menimbulkan suara berdenting-denting yang menggetarkan perasaan Harun.
Tanpa disadarinya ia masuk ke rumah itu.
“Indah sekali, Tuan,” puji Harun
“Pandai sekali Tuan memainkannya. Saya ingin memiliki kepandaian seperti Tuan.”
Laki-laki itu menghentikan permainannya, lalu menatap Harun dengan curiga.
“Siapa kau?” tanyanya.
“Nama saya Harun. Saya kemari karena tertarik oleh suara merdu alat musik itu,” jelas Harun.
“Maukah Tuan mengjarkan kepandaian Tuan pada saya?”
“Aku tidak pernah mengajarkan kepandaianku pada siapapun,” tolak pemain sitar itu. Tapi Harun tak menyerah begitu saja.
“Saya pandai bermain seruling. Saya akan ajari Tuan meniup seruling asalkan Tuan mau mengajari saya memetik sitar,” tawar Harun.
Si Pemetik Sitar terdiam sesaat.
“Baiklah,” katanya kemudian.
“Aku terima tawaranmu.”
Mereka saling tukar kepandaian. Harun mengajari si Pemetik Sitar meniup seruling dan si Pemetik Sitar mengajari Harun memetik Sitar.
Beberapa bulan kemudian.
“Aku sudah mengajarkan semua kepandaianku,” kata si Pemetik Sitar pada Harun. “Jadi pelajaranku sudah selesai.”
“Saya juga sudah mengajarkan semua kepandaian saya,” ujar harun. “Maka pelajaran yang saya berikan berkahir sampai disini.”
Sebelum berpisah, si Pemetik Sitar memberikan sebuah sitar kepada Harun. Kemudian harun melanjutkan perjalanannya.
Satu tahun hampir terlewati. Pada bulan kesepuluh Harun tiba di sebuah kota kerajaan. Pesta tengah berlangsung di kota itu. Pawai yang semarak memadati jalan. Harun mendengar suara dentuman yang berulang-ulang dan berirama. Dicarinya suara itu. Tak lama kemudian ia melihat seorang berpakaian badut memukuli tambur. Dihampirinya penabuh tambur berpakaian badut itu.
“Saya mengagumi permainan tambur Tuan,” ujar Harun.
“Kau ingin bisa bermain tambur?” tanya si Badut.
“Ya. Maukah Tuan mengajari saya? Sebagai imbalan saya akan mengajari Tuan bermain seruling dan sitar.”
Badut penabuh tambur itu menyetujui tawaran Harun. Ia ajari Harun bermain tambur, sebaliknya Harun pun mengajarinya bermain seruling dan sitar.
Dalam waktu singkat mereka telah menyelesaikan pelajarannya masing-masing. Ketika akan berpisah, si Pemain Tambur menghadiahi Harun sebuah tambur.
Harun merasa sudah saatnya untuk pulang. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan ia tiba dirumahnya.
“Kau sudah kembali. Apa saja yang kau dapat?” tanya ayah Harun.
Harun menunjukkan sebuah seruling, sebuah sitar dan sebuah tambur kepada ayahnya.
“Apa maksudmu dengan semua ini?” tanya ayahnya heran.
Harun menceritakan semua pengalamannya selama satu tahun. Ia ungkapkan dari awal hingga akhir.
Begitulah, ayah,” Harun mengakhiri penuturannya. “Keahlian bermain musiklah yang saya dapatkan dalam perniagaan.”
Ayah Harun terdiam. Dipandangnya Harun, lalu dipandangnya alat-alat musik yang berada di depannya. Perlahan-lahan ia tersenyum. Senyum bangga dan haru.
Sejak itu ayah Harun tak pernah lagi memaksa Harun menjadi saudagar. Ia berikan Harun kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *