Cerpen: Sayembara yang Aneh

Oleh Widya Suwarna


Ya, ini memang bukan sayembara mengarang atau melukis. Sayembara yang aneh ini dilakukan oleh sebuah kerajaan. Masalahnya, Putri Astrid yang cantik itu ingin memiliki suami yang pandai. Jadi kerajaan itu mengadakan sayembara. Pemenangnya boleh menikah dengan sang putri.
Ada tiga hal yang harus dipenuhi para peserta. Pertama, Putri Astrid menginginkan bunga saruni hitam. Kedua, ia menginginkan sebuah buku yang tertera kalimat yang sama pada halaman pertama sampai pada halaman terakhir. Ketiga, ia menginginkan binatang buas yang tidak menakutkan.
Nah, apakah kira-kira ada di antara kalian yang bisa memenuhi ketiga hal tersebut?
Nah, sayembara sudah berlangsung selama dua minggu, namun tak seorang pun datang. Padahal, sayembara itu juga terbuka bagi orang-orang dari kerajaan lain.
“Sayembaramu terlalu berat,” kata Raja pada putrinya.
“Tenang saja, Ayah. Saya yakin kok akan ada orang yang datang,” kata Putri Astrid.
Benarlah, pada hari ketujuh belas datang dua orang pangeran, yaitu Pangeran Victor dan Pangeran Andrew. Keduanya membawa persyaratan yang diminta, walaupun bentuknya berbeda.
Pangeran Victor membawa bunga Seruni putih yang disemprot dengan cat hitam. Lalu buku tulis yang mulai halaman pertama sampai terakhir dituliskan kata-kata: Aku mencintaimu, Putri Astrid. Yang terakhir, dia memberikan bros emas berbentuk singa dan bertahtakan permata.
Pangeran Andrew membawa ukiran kayu berbentuk bunga seruni yang dicat hitam. Kemudian ia membawa buku nyanyian. Pada setiap halaman ada tulisan: Mari memuji Tuhan. Dan kemudia ia membawa anak harimau yang masih kecil, seperti kucing jinak saja.
Nah, ini malah merepotkan. Putrinya cuma seorang, sedangkan pemenang sayembara ada dua orang.
“Salah sau dari antara kalian harus mengalah, karena kalian sama-sama menang. Tak mungkin Putri Astrid menikah dengan kalian berdua sekaligus,” kata Raja.
“Sebaiknya, diadakan sayembara lagi untuk menentukan pemenangnya,” usul Pengeran Andrew.
“Ya, saya mendukung usulnya,” kata Pengeran Victor.
“Baiklah, namun kami perlu mengadakan persiapan. Silahkan para pengeran yang terhormat bermalam dan bersenang-senang di istana kami yang sederhana. Besok baru kita lakukan sayembaranya,” kata Raja.
Kemudian, Raja, Putri Astrid dan Perdana Menteri berunding.
“Kamu mau buat sayembara apa lagi?” tanya Raja pada Putri Astrid.
Putri Astrid tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia tak menduga akan ada dua pangeran yang memenuhi syarat dan datang sekaligus pada hari yang sama. Kalaulah yang seorang lagi datang esok hari atau minggu depan, tentu tidak akan timbul masalah yang merepotkan ini.
“Maaf, Baginda. Kedua pangeran itu sama-sama pandai. Mungkin kita perlu mengadakan sayembara yang berkaitan dengan watak mereka supaya Putri Astrid bukan hanya mendapatkan suami yang pandai tetapi juga yang wataknya baik,” usul Perdana Menteri.
“Terima Kasih. Itu usul yang sangat baik,” kata Raja.
“Bagaimana bentuk sayembaranya?”
“Aku ada gagasan,” kata Perdana Menteri. Dan ia pun menguraikan gagasannya. Raja dan Putri Astrid setuju.
“Itu untuk mengetahui siapa yang lebih mampu mengendalikan emosi. Bukankah begitu?” tanya Raja. Perdana Menteri mengangguk.
“Aku juga ada usul. Aku ingin tahu siapa yang berhati lembut atau kejam. Pertanyaan yang kuajukan adalah ini…” kata Putri Astrid.
Raja dan Perdana Menteri setuju. Jadi ada dua hal yang disayembarakan besok.
Keesokan harinya di ruangan sidang berkumpul pada kerabat istana dan pejabat-pejabat. Juga Pangeran Andrew dan Pangeran Victor sudah hadir. Kedua pengeran itu tampan dan gagah, cerdas, dan tampil meyakinkan.
Raja memberi tanda dan sayembara dimulai.
“Pertanyaannya: Apa yang akan kalian lakukan bila Putri Astrid ingin makan masakan yang dibuat dari daging bayi gajah?”
Pangeran Victor menjawab, “Aku akan menyuruh orang berburu bayi gajah di hutan. Lalu menyuruh kokiku yang terbaik untuk membuat masakan yang terlezat.”
Hadirin bertepuk tangan mendengar jawaban yang lantang dan meyakinkan. Sekarang semua mata tertuju pada Pangeran Andrew.
Pangeran Andrew menjawab, “Maafkan, hamba tidak bisa memenuhi keinginan Sang Putri. Hamba tidak tega membunuh bayi gajah.”
Hadirin bertepuk tangan. Baru saja tepuk tangan usai, muncul seorang pengawal dari ruang dalam. Ia mendekati Pangeran Andrew dan Pangeran Victor, menuding mereka berdua dan berkata, “Kalian, para pengeran kerajaan tidak tahu malu. Mengapa merusakkan lampu hias di kamar? Lampu itu lampu antik dan harganya sangat mahal.”
Wajah Pangeran Victor merah padam. Ia menghunus pedangnya dan berkata, “Kurang ajar! Kamu hanya seorang pengawal, tapi kamu berani menuduh yang bukan-bukan. Aku bukan pencuri. Aku pangeran kerajaan yang terhormat. Mau rasakan pedangku?”
Pangeran Andrew mendekati si pengawal dan berkata, “Bapak, mari selesaikan masalah baik-baik. Setahu saya, tak ada lampu hias di kamar yang pecah. Mari kita lihat buktinya dan sudah itu kita bicara lagi. Mungkin telah terjadi salah paham.”

Si pengawal berlutut di hadapan kedua pangeran dan berkata, “Maafkan hamba. Sekali lagi, hamba mohon maaf.”

Hadirin bertepuk tangan. Kedua pangeran berpandangan dengan agak bingung dan akhirnya Pangeran Andrew berkata, “Oh, itu tadi sayembara yang kedua.” Dan Pangeran Victor pun sangat terkejut serta menyadari kesalahannya.
Raja menjelaskan bahwa sayembara ini memang dimaksudkan untuk menguji watak kedua pangeran tersebut. Kedua pangeran memang tampan dan pandai. Akan tetapi, hati Pangeran Andrew lebih lembut dan ia lebih mampu mengendalikan emosi. Raja mengucapkan terimakasih dan mengumumkan bahwa Pangeran Andrew adalah pemenangnya dan berhak menikah dengan Putri Astrid. Demikianlah sayembara yang aneh itu telah selesai. ***

2 thoughts on “Cerpen: Sayembara yang Aneh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *