Cerpen: Mama Berhati Emas

Oleh Ny. Widya Suwarna


Kadang Sinta suka berangan-angan. Alangkah menyenagkan bila punya mama seperti mamanya Ranti. Selalu rapi, bersepatu hak tinggi dan bekerja di kantor. Langsing, rambutnya sebahu, berombak rapi… Atau seperti tante Elsa, mamanya Inge yang bekerja di salon. Ia selalu tampil modis. Pakaian dan make-upnya serasi. Jemarinya indah dengan cat kuku yang berganti-ganti warna sesuai bajunya. Pokoknya kedua mama teman Sinta bagaikan ibu-ibu dalam sinetron.
Kalau mama Sinta, boro-boro pakai cat kuku. Sehari-hari memakai celana panjang dan kemeja. Tubuhnya gemuk pendek, dan rambutnya dipotong seperti laki-laki. Pagi-pagi ia naik sepeda ke pasar untuk membuka kios buah. Mama berdagang apel, jeruk, atau anggur. Kalau musim duku, ya berjualan duku juga.
Mama pakai lipstik dan rok hanya bila pergi ke pesta. Selaiknya papa Sinta selalu berkemeja lengan panjang, berdasi, dan mengendarai mobil dinas. Dalam hati kadang Sinta heran. Kok papa mau menikah dengan Mama? Bahkan sangat menyayangi Mama. Tiap pulang kerja Papa selalu menanyakan Mama
Hari ini Sinta pulang sekolah lebih cepat karena ada rapat guru. Tapi Sinta malas pulang, karena di rumah hanya ada Pak Usin, tukang yang sedang memperbaiki dapur. “Lebih baik aku ke pasar saja, ke kios Mama!” pikir Sinta.
Sinta jarang datang ke kios Mama. Kalau Sinta pulang sekolah, biasanya kios sudah tutup dan Mama pun sudah ada di rumah. Turun dari bis, Sinta masuk ke lorong pasar. Pasar mulai sepi. Pedagang-pedagang mulai mengantuk. Mama sedang memasukkan apel ke dalam dus. Di depan kios Mama dan pedanng pisang. Seorang anak laki-laki duduk dekat kios pisang sambil menggendong kotak semir sepatu. Pakaiannya kumal, kulitnya hitam.
“Ma, Sinta pulang cepat. Guru-guru rapat!” kata Sinta.
“Kalau begitu kita bisa pulang sama-sama!” kata Mama. “Tunggu sebentar, Mama beres-beres dulu!”
“Ma, anaknya ya. Kenalin, dong!” Tiba-tiba si penyemir sepatu bangkit dan mendekati kios Mama
“Sinta, ini Ujang. Ayo, kalian salaman!” kata Mama. Dengan segan Sinta mengulurkan tangannya. Dalam hati Sinta kurang senang. Apa-apaan si Ujang ini? Panggil mama Sinta seenaknya. Mama? Mama siapa?
“Pak Usin masih memperbaiki dapur. Mama tidak memasak hari ini. Kita makan ayam goreng saja, ya di depan sana!” kata Mama. Sinta mengangguk. Hatinya kembali senang, membayangkan ayam goreng, kentang goreng, puding.
“Ma, anaknya cantik. Asyik benar nih makan ayam goreng!” komentar si Ujang. Mama tertawa.
“Terimakasih, Ujang juga cakep. Ayo, ikut saja sekalian makan!” kata Mama. Sinta melihat mata Ujang berbinar-binar dan wajahnya berseri-seri.
“Benar nih, Ma. Boleh ajak si Dudung?” tanya Ujang penuh harap.
“Ya, ya, lekas ajak ke sini. Kalau terlambat, ditinggal, lho!” kata Mama.
Bagaikan anak panah lepas dari busurnya Ujang berlari, meninggalkan kotak semir sepatunya di lantai kios tukang pisang.
“Ma, kok anak itu panggil Mama, bukan Ibu atau Tante?” bisik Sinta heran.
“Biar saja. Ibunya ada di kampung. Tukang sayur, tukang ikan juga sering panggil Mama. Apalah artinya panggilan!”  jawab Mama.
“Ma, tidak malu bawa anak kumal ke restoran?” tanya Sinta lagi. Ia cemas kalau-kalau bertemu teman di restoran. Mama tersenyum dan menggeleng.
“Sinta, anak-anak itu juga manusia seperti kita. Cuma, mereka kurang beruntung. Lihatlah, betapa senag wajah Ujang karena diajak makan di restoran. Biarlah sekali-kali kita memberi sedikit kebahagiaan pada dia!” kata Mama.
Tepat ketika Mama mengunci kios dan mengeluarkan sepedanya, Ujang dan Dudung datang. Sinta menutup hidung karena kedua anak laki-laki itu bau terik matahari. Dudung memegang tamborin. Rupanya ia seorang pengamen.
“Ma, dapat rejeki, ya mau traktir kita? Ma, aku minta paha ayam, yah!” kata Dudung tanpa malu-malu. Mama cuma tersenyum, lalu menitipkan sepeda pada Pak Kirman, pedagang pisang.
“Ya, tinggal saja sepedanya di sini. Asal ada ongkos titipnya!” gurau Pak Kirman. Ujang dan Dudung juga menitipkan kotak semir sepatu dan tamborin.
Lagi-lagi Sinta terperanjat. Ah, Mama tidak takut sepedanya hilang. Mama begitu percaya pada Ujang dan Dudung.
Mereka berempat jalan ke luar pasar. Ketika Mama dan Sinta masuk ke restoran, ternyata Dudung dan Ujang belum masuk. Mereka bertemu dengan dua kawannya. Entah pengemis atau pengamen, Sinta tidah tahu.
Mama memesan makanan dan ketika kedua anak laki-laki itu masuk, Mama memberi isyarat agar mereka duduk. Kemudian Mama dan Sinta mengantarkan nampan-nampan yang berisi ayam goreng, nasi dan minuman ringan pada Dudung dan Ujang.
“Kalian cuci tangan dulu di sana,” kata Mama. Orang-orang yang sedang makan memperhatikan Mama dan kedua anak laki-laki itu. Sinta merasa risih.
Sinta dan Mama kembali mengambil nampan untuk mereka sendiri. Dudung dan Ujang belum mulai makan, keduanya berbisik-bisik. Mama mendekati mereka.
“Ada apa?” tanya Mama.
“Ma, boleh tidak, satu nampan ini dibawa keluar untuk Oni dan Engkos? Nanti dikembalikan lagi. Aku dan Dudung paruhan saja! Kasihan Oni dan Engkos!” pinta Ujang.
Sinta terkesiap. Walaupun anak jalanan, ternyata Ujang punya rasa setia kawan yang besar. Ia dapat makanan enak, dan ia tidak tega menikmatinya sendiri sementara dua kawannya menonton dari balik kaca di luar.
“Ajak saja mereka kedalam. Mama akan pesankan lagi!” kata Mama.
“Tapi…jadi menyusahkan Mama, dong. Mama kan mesti bayar lagi!” kata Dudung dengan wajah prihatin.
“Oooh, uang Mama cukup kok! Hari ini memang Tuhan kasih rezeki pada kalian!” kata Mama. Wajah Mama berseri-seri dan untuk pertama kalinya Sinta bisa melihat bahwa sebetulnya Mama cantik.
Dudung dan Ujang pergi ke depan. Mama memesan makanan lagi untuk Engkos dan Oni. Sinta bangkit untuk menolong Mama membawakan nampan. Hati Sinta terharu. Mama demikian baik.
Ketika membayar di kasir, kasir berkata, “Ibu baik sekali. Jarang orang seperti Ibu. Mau memperhatikan anak-anak jalanan!”
“Ah, hanya ini yang mampu saya lakukan!” kata Mama tersipu-sipu.
Namun, dalam hati Sinta merasa bangga.
Kemudian mereka mulai makan. Keempat tamu makan dengan lahap. Setelah selesai, mereka mengucapkan terimakasih. Mama dan Sinta pulang naik bajaj. Ujang akan kembali ke pasar dan mengantar sepeda Mama. Ketiga anak lainnya mengemis dan mengamen di bis kota.
Sore hari, Sinta bercerita pada Papa tentang Mama.
“Sejak dulu memang mamamu dikenal berhati emas. Itulah sebabnya Papa menikah dengan Mama!” kata Papa dan ia menepuk-nempuk bahu mama.
Sinta tersenyum. Rasanya hangat mengalir di hatinya. Sekali lagi ia melihat Mama yang sedang tersenyum. Tampak cantik, walaupun tidak memakai lipstik dan berdandan modis. Mama Sinta yang berhati emas. Dan angan-angan Sinta ingin punya mama seperti mama orang lain terbang entah kemana. *****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *