Cerpen: Misteri Sebuah Seruling

Oleh Lasma Hasianna Situmeang

“Kak Tika… bangun! Kak Tika tidak mendengar sesuatu?” aku membangunkan kakakku, Tika.

“Amel… jangan ganggu Kakak, dong. Kakak masih ngantuk, ini masih malam, masih jam dua belas”.
“Iya… tapi coba dengar! Malam-malam begini, kok ada suara tangisan?” aku mencoba meyakinkan Kak Tika, dan kelihatannya ia sedang memasang kupingnya.
“Wah, benar, Mel! Kira-kira siapa yang nangis ya? Dan sepertinya ada suara seruling juga?” tanya Kak Tika lagi.
Aku mengangguk dan menjadi takut. Lingkungan di sekitar rumah Kakek, di Tarutung, tepatnya di Tapanuli Utara.
“Mel… mungkin ada anggota salah satu keluarga di sekitar rumah kakek yang meninggal dunia. Jadi kita harus membangunkan kakek,” Kak Tika bicara penuh antusias.
“Aduh… sudah deh, lebih baik kita tidur aja lagi. Amel takut kak…” jawabku dengan sedikit merengek. Kak Tika mengerutkan dahi, sepertinya sedang berpikir keras.
“Ya sudah! Kalau kamu mau tidur, lanjutkan saja tidurmu. Kakak tak habis pikir, ada suara tangisan bersamaan dengan suara seruling. Pasti ada sesuatu dibalik semua ini, ” Kak Tika membuka pintu kamar dan berjalan perlahan-lahan.Karena takut sendirian dikamar, aku mengikutinya. Kami mengendap-endap dan membuka pintu ruang tamu.
“Sepertinya suara tangisan tadi berasal dari tetangga sebelah. Tetapi suara seruling itu berasal dari tempat yang lain. Aku semakin penasaran,” Kak Tika mengambil sebuah senter dikamar, dan kamipun mulai berjalan keluar rumah. Ternyata memang benar, suara itu berasal dari tetangga sebelah. Kak Tika memasuki perkarangan tetangga sebelah yang tidak berpagar. Suara itu begitu pilu. Setelah mengintip dari sela-sela pintu yang terbuat dari kayu, kami bisa melihat kalau yang menangis adalah Bu Anto. Dia menangis di ruang tamu, tapi tidak ada orang yang meninggal disekitarnya. Ia menangis sambil memegang bingkai. Kami berdua terheran-heran. Ada apa dengan Bu Anto?
“Mel, suara tangis itu ternyata bukan hanya dari rumah Bu Anto. Ada juga dibeberapa rumah lain. Tetapi suara seruling itu berasal cuma berasal dari satu sumber. Kalau begitu, lebih baik kita mencari sumber suara seruling itu.”
Kami mulai berjalan melewati pohon-pohon besar. Desa ini memang masih banyak rawa-rawa, pohon-pohon bambu, dan pohon alpukat. Hanya dengan sebuah senter Kak Tika melangkahkan kakinya dengan mantap. Aku memengan tangannya dengan erat.
“Mel, sepertinya berasal dari rumah gubuk itu!” Kak Tika menarik tanganku kesebuah rumah panggung. Perlahan ia menaiki tangga itu dan mencoba mellihat dari sela-sela pintu kayu. Ternyata yang meniup seruling seorang anak lelaki.
Tok tok tok…
Kak Tika benar-benar nekat mengetuk pintu rumah itu. “Siapa itu?” tanya anak lelaki itu. Dia berjalan dan membukakan pintu. “Siapa kalian?” tanyanya dengan tatapan curiga.
“Kami cucu kakek Santos. Kami sedang liburan disini. Apa kami boleh masuk?” tanya Kak Tika ramah. Dia mengangguk. Anehnya sejak dia selesai memainkan serulingnya, suara tangis itu tidak terdengar lagi.
“Namaku Tika, aku kelas IV SD. Ini adikku, Amel, kelas II SD. Boleh kami tahu namamu?” tanya Kak Tika dengan hati-hati.
“Hm… namaku Joni, aku sekarang kelas IV SD. Sedang apa kalian malam-malam begini?” Joni mulai kelihatan ramah.
“Kami tak bisa tidur mendengar suara tangisan, dan suara seruling yang kedengarannya begitu menyanyat. Ada apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Kak Tika.
Si Joni menundukkan kepala. Lalu mulai bercerita.
“Aku punya kakek yang sangat baik. Ia yang membuat seruling ini. Seruling ini tidak sembarangan dibuat. Setiap ada satu anggota keluarga di desa ini yang meniggal, Kakek membuat satu lubang pada bambu yang akan dijadikan seruling. Tiga tahun lalu ada dua anggota keluarga didesa ini yang meniggal dunia dalam waktu yang bersamaan. Kakekpun memberi dua lubang pada bambu ini…” Joni menarik napas. Lalu melanjutkan.
“Jadi… pembuatan ini cukup lama, karena jarang anggota keluarga yang meniggal. Kata Kakek, bambu ini akan dibuat delapan lubang. Tujuh lubang sejajar dan satu lagi dibelakangnya. Tapi beberapa bulan yang lalu kakek meninggal. Sebelum meniggal kakek berpesan kalau ia meniggal aku harus membuat lubang yang terakhir. Ia menyuruhku meniup seruling ini pada malam jumat. Jadi, bila seruling ini aku tiup, orang-orang yang telah kehilangan anggota keluarganya yang telah diberi tanda dengan lubang pada seruling ini, akan menangis pilu. Karena semua teringat pada orang-orang yang dicintainya termasuk aku. Sambil meniup seruling air mataku mengalir deras, teringat pada kakekku tercinta,” Joni menyelesaikan ceritanya yang panjang.
“Wah… pantas Bu Anto menangis sambil memegangi bingkai. Mungkin itu foto anaknya yang meninggal.” Tebakku.
Kami berdua lalu berpamitan pulang.
“Kami senang punya teman seperti kamu, Jon. Kami akan menceritakan kisah menarik ini buat teman kami di kota.”
“Baiklah. Sampai jumpa, Tika, Amel…” Joni mengucapkan salam perpisahan. Kamipun bergegas pulang, khawatir jika kakek memeriksa kamar kami.***

One thought on “Cerpen: Misteri Sebuah Seruling”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *