Cerpen: Kacamata Bima

Oleh: Didit Setyo Nugroho

Setiap kali memandang papan tulis, Ngadi selalu gelisah. Kedua matanya tidak berfungsi untuk jarak lebih dari dua meter. Ia akan melihat kearahku dan aku memberikan padanya apa yang baru kusalin dari papan tulis. Bu Asri, wali kelas kami, sudah mengizinkan Ngadi untuk mendengar saja. Setahuku Ngadi dulu pernah punya kacamata. Tetapi pecah saat bermain dengan Wahyudi dan sampai sekarang belum memiliki gantinya. Keluarga Ngadi memang hidup pas-pasan. Bapaknya seorang tukang batu. Ibunya menjual sayur dari rumah ke rumah di sepanjang bukit-bukit padas.
Karena gangguan matanya, Ngadi tidak dapat membedakan wajah orang didepannya dengan jelas. Seringkali ibu guru yang bertubuh kecil dianggap sebagai temannya. Itu membuatku merasa geli namun juga sedih.
Apabila malam tiba, aku sering membayangkan kehidupan Ngadi. Di bawah temaram lampu minyak ia mengeja huruf dalam dingin rumah bambu. Aku ingin menolong Ngadi. Tetapi aku juga tidak mau merepotkan orang lain. Apalagi ayahku sekarang tidak ada di rumah. Lama aku merenung. Tiba-tiba mataku tertumpuk pada sisa selembar kulit. Selembar kulit bahan wayang yang masih mentah.
“Ah, aku kan bisa menatah!” gumamku pada diri sendiri. Sejak Sekolah Dasar, ‘membuat wayang’ menjadi pelajaran tambahan yang wajib di daerahku. Tetapi hanya beberapa orang yang menekuninya sebagai pengrajin. Dulu ayahku juga pernah menjadi penatah wayang. Tetapi karena penghasilannya sedikit, Ayah nekat merantau ke Jakarta mengikuti Pak Nasir yang telah jadi kontraktor sukses. Sejak itu setiap bulan Ayah dapat mengirimiku uang sampai saat ini.
Karena pernah mengalami kehidupan miskin, aku bisa merasakan derita Ngadi.
Kulit kerbau warna cokelat itu mulai kuraba. Aku mulai memilih tokoh wayang yang akan aku buat. Akhirnya kuputuskan untuk membuat tokoh Bima.
Aku mulai memindahkan pola di atas kulit. Aku mulai menatah satu per satu ornamen yang ada pada tokoh Bima. Aku juga mencoba memasukkan jiwa ke dalamnya seperti yang pernah diajarkan ayahku dulu. Hari ketiga aku sudah mencampur cat poster. Lalu menggoreskan gradasi warna dengan hati-hati.
Setelah tujuh hari, dengan tangan kecil dan keringatku, Bima pun berdiri tegak gagah di hadapanku. Tinggal memasang penyu di rumah Pak Taru langganan Ayahku dulu. Oh ya Pak Taru adalah petugas koperasi yang menyediakan peralatan pembuatan wayang di desaku.
Pagi-pagi sekali aku membawa Bima yang telah kubungkus rapi menghadap Kepala Sekolah. Satu-satunya harapanku untuk menolong Ngadi. Sebab beliau selalu menekankan untuk tolong menolong antar sesama. Bapak Kepala Sekolah menatapku, mukanya ramah kebapakan.
“Ada apa Budi,” sapa beliau. Aku sempat heran bagaimana beliau tahu namaku. Tetapi ketika kuikuti arah pandangannya aku jadi mengerti. Aku gembira seperti kehilangan kata-kata dihadapan beliau. Aku mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku. Bapak Kepala Sekolah menanti dengan penuh kesabaran.
“Bapak pernah bercerita kalau Bima itu tokoh simbol kebaikan. Juga memiliki sikap yang baik seorang murid terhadap gurunya.”
“Iya, Bapak ingat betul itu amanat pertama Bapak saat diangkat menjadi Kepala Sekolah disini,” beliau meyakinkan. Aku mengambil napas lega.
“Sebelumnya mohon maaf. Saya tidak tahu apakah langkah saya ini baik atau buruk,” ujarku mulai lancar bercerita. Bapak Kepala Sekolah menatapku, dengan serius memperhatikan ucapanku. “Apakah Bapak mau membeli Bima yang saya buat dengan tangan dan keringat saya sendiri?” tanyaku penuh harap. Bapak Kepala sekolah masih menatapku dengan senyum yang khas.
“Coba perlihatkan.”
Aku mengeluarkan tokoh Bima dari kantong kain dan menyerahkan kepada beliau. Bapak Kepala Sekolah menimang Bima di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memainkan tangan Bima. Beliau tersenyum puas.
“Untuk apa uangnya nanti?” tanya beliau.
“Untuk membeli kacamata,” sahutku mantap.
“Kacamata untuk siapa?” tanya beliau lagi.
“Untuk teman saya, Ngadi,” jawabku.
Lalu tanpa diminta aku menceritakan keadaan Ngadi. Dahi beliau tampak berkerut kemudian mengangguk dan tersenyum puas. Beliau menepuk pundakku dan berucap, “Kamu pantas untuk jadi Bima!” Hatiku seperti dilambungkan pada tempat yang jauh.
“Tolong kamu panggil Ngadi kemari,” perintahnya. Aku bergegas memanggilnya.
Setelah memberi beberapa pesan kepada Bapak Wakil Kepala Sekolah, beliau mengajak Ngadi dan memilihkan kacamata yang cocok untuknya. Bapak Kepala Sekolah mengambil uang dari sakunya.
Begitu Ngadi memakai kacamata wajahnya kelihatan cerah.
“Terima kasih Pak, saya bisa melihat lagi,” ucap Ngadi tulus. Matanya berkaca-kaca dari balik kacamata baru yang dipakainya.
Bapak Kepala Sekolah juga tersenyum puas.
“Berterimakasihlah pada Bima. Itu hadiah dari dia.”
“Bima siapa?” tanya Ngadi bingung.
“Bima Werkudara,” jawabku kalem.
Matahari mulai meninggi tetapi begitu indah di mata Ngadi. *****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *