Cerpen: Pulanglah, Sayang!

Oleh Glory Gracia Christabelle

Jimmy sangat kesal hari ini. Ia dimarahi ibunya karena  pulang terlambat dengan baju kotor. Memang ia bersalah namun ia tak mau disalahkan. “Ibu sudah tak mencintaiku lagi,”gerutunya dalam hati. Akhirnya malam itu dengan diam-diam Jimmy memutuskan kabur dari rumah. Ia pergi dengan membawa uang tabungan miliknya, sepasang pakaian, sebotol air, dan sekantong kue. Ia lari dari rumahnya. Ia pergi ke kota lain di mana tak seorang pun mengenalnya.
Jimmy pergi dengan berjalan kaki. Kadang-kadang ia menumpang gerobak petani yang kebetulan lewat dengan diam-diam. Ia memakan buah liar dan minum air sungai untuk menghemat perbekalan. Akhirnya Jimmy sampai di sebuah kota yang ramai. Perbekalan sudah habis. Ia terpaksa membeli makanan dengan uang yang dimiliki. Harga makanan di kota cukup mahal. Sebentar saja uang Jimmy sudah habis. Dengan perut lapar ia tidur di depan emperan toko.
Hari ini adalah hari kedua Jimmy tidak makan. Perutnya amat lapar. Tak seorang pun yang berniat menolongnya. Dengan terseok-seok ia berjalan. Tiba-tiba ia melihat sebuah kerumunan yang amat ramai. Di sana banyak orang bertepuk tangan dan berdecak kagum. Dengan penuh rasa ingin tahu, Jimmy menyeruak ke dalam kerumunan itu. Ternyata seorang pesulap jalanan sedang beraksi. Dengan lincah sang pesulap dapat menghilangkan benda dan memunculkan benda dengan ajaib. Jimmy begitu terpesona. Pertunjukan itu cepat selesai. Para penonton bertepuk tangan puas sambil memberikan uang receh. Sebentar saja kerumunan itu bubar. Namun Jimmy masih diam terpaku memandangi sang pesulap.
Sambil tersenyum penuh arti, si pesulap bertanya, “Ada apa, Nak? Apakah atraksiku menarik?” Jimmy memandang si pesulap. “Ya, betul-betul mengagumkan,” kata Jimmy penuh semangat. Tampaknya perutnya pun ikut bersemangat. Tiba-tiba perutnya berbunyi keras sekali. Mendengar itu si pesulap tertawa kecil. “Kau belum makan? Ayo ikut aku! Hari ini pertunjukanku berhasil baik. Aku akan mengajakmu makan kalau kau mau,” kata si pesulap sambil membereskan peralatan sulapnya. Jimmy sangat  senang. Ia mengangguk dan mengikuti si pesulap.
Selesai makan, si pesulap bertanya. “Aku Ian si pesulap. Siapa namamu?” Sambil mengelap mulutnya Jimmy menjawab. “Jimmy, tuan. Izinkanlah aku belajar sulap dari tuan. Aku tak akan menyusahkan. Aku akan membantu tuan mencari uang,” kata Jimmy penuh harap. Ian si pesulap tersenyum mendengarkannya. “Baiklah. Kau boleh ikut.”
Sejak saat itu Jimmy ikut dengan pesulap itu. Mereka mengadakan atraksi di beberapa kota. Jimmy cepat belajar. Sebentar saja ia sudah dapat melakukan berbagai atraksi sederhana. Setiap kali selesai mengadakan atraksi, Jimmy mendapatkan sedikit uang saku. Sisanya dipakai untuk makan, menginap dan lainnya.
Jimmy mengumpulkan uang sakunya yang sedikit. Lama-lama uangnya terkumpul. Cukup untuk perjalanan pulang. Kadang-kadang Jimmy termenung. Ia mulai merindukan ibunya. Ia merindukan rumahnya, teman-temannya, dan padang rumput tempat biasa ia bermain. Kadang-kadang tanpa disadari air matanya mengalir. Namun ia terlalu gengsi untuk mengakui hal itu Ian si pesulap seperti dapat membaca isi hari Jimmy. Sambil tersenyum ia mendekati Jimmy yang sedang resah itu.
“Jimmy! Tidakkah kau rindu akan tempat asalmu? Rumah, padang rumput, teman bermain, dan ibumu. Aku tahu kalau kau bukan anak jalanan biasa. Kau punya rumah, punya ibu, punya kehidupan indah. Aku dapat membacanya dari raut wajahmu. Bukankah kau sudah cukup puas bermain jauh dari rumah. Sudah saatnya kau kembali. Kau sudah merindukannya, bukan? Ibumu juga sudah sangat merindukanmu,” kata Ian dengan lembut. “Tidak mungkin!!! Ibu tak akan merindukanku! Ia jahat aku selalu dimarahinya. Memang aku bersalah. Tapi ia tak perlu memarahiku seperti itu. Ia tak mencintaiku. Pasti ia bersyukur atas kepergianku. Aku akan kena hukum kalau aku pulang. Aku tidak mau pulang! Aku benci padanya! Jangan pulangkan aku. Biarkan aku ikut denganmu saja! Kumohon!” teriak Jimmy sambil menangis.
“Baiklah, Jimmy kalau itu maumu. Tapi sebelum kau betul-betul memantapkan keinginanmu, kuminta lihatlah sebuah sulap spesialku ini,” kata Ian sambil tersenyum misterius.
Ia mengeluarkan sebuah alat pembuat gelembung dan sekotak air sabun. Dengan benda itu, ia membuat gelembung-gelembung sabun. Satu persatu gelembung itu membesar dan naik ke angkasa. Tiba-tiba dalam gelembung pertama terdapat bayangan, Jimmy penasaran sekali. Ian si pesulap kemudian menggandeng Jimmy. Kemudian mereka melompat masuk. Di dalamnya terlihat peristiwa di masa lalu. Jimmy melihat dirinya bermain sampai larut. Ia juga melanggar pesan ibunya untuk tidak bermain di rawa. Ia melihat perasaannya ketika bermain dan dimarahi oleh sang ibu. Kemudian Jimmy dan si pesulap melompat ke dalam gelembung kedua. Di dalamnya terlihat ibunya tengah menyiapkan kue dan makanan kesukaan Jimmy. Semua masakan itu masih hangat jika Jimmy pulang tepat waktu. Namun waktu berlalu. Sang ibu dengan penuh cemas menunggu di rumah. Setelah tahu anaknya pulang dari rawa, ia amat kesal. Namun ia sangat sedih ketika anaknya mengabaikan perasaan cemasnya. Diam-diam sang ibu menangis.
Jimmy dan Ian pesulap melompat ke gelembung ketiga. Di dalamnya Jimmy melihat ibunya ketika ditinggal pergi olehnya. Ibunya dengan cemas mencari ke sana kemari. Ia menunggu Jimmy pulang. Namun tak ada kabar yang datang. Anaknya tak pernah pulang. Semakin hari ibunya semakin kurus dan pucat. Setiap hari sang ibu menangis. Ia selalu membuat makanan kesukaan anaknya setiap hari dan duduk di teras menunggu kepulangannya. Sampai suatu hari ia sakit. Namun tak ada yang tahu bahwa ia sakit. Dalam penantiannya ia meninggal. Meninggal sendirian.
“Cukup! Hentikan permainan sulapmu, Tuan Ian! Ini terlalu menyedihkan,” kata Jimmy terisak-isak. “Tapi ini adalah kenyataan. Yang akan kau lihat akan menjadi kenyataan jika kau tidak pulang. Semua pilihan ada di tanganmu, Nak! Pikirkanlah baik-baik,” jawab Ian si pesulap sambil mengelus rambut Jimmy. Malam itu Jimmy berpikir keras. Lama ia menimbang, akhirnya ia memutuskan. Esok paginya ia menemui si pesulap. “Aku akan pulang, Tuan Ian. Maukah kau mengantarku pulang?” mendengar itu Ian pesulap tersenyum, “Tentu!”
Kemudian ia mengayunkan tongkat sulapnya. Di depannya muncullah sebuah jalan bersinar. “Lewat sini,” kata Ian sambil menggandeng Jimmy melalui jalan bersinar itu. Tiba-tiba mereka sudah sampai di depan rumah Jimmy. “Hampirilah ibumu. Aku mengembalikanmu pada hari saat kau pertama kali bertemu denganku,” kata si pesulap. Jimmy berlari.
“Siapa kau sebenarnya? Teriak Jimmy.
“Ian si pesulap. Sampai jumpa Jimmy.” Kemudian Ian si pesulap menghilang. Jimmy memeluk ibunya. “Maafkan aku, Bu,” bisiknya sambil menangis. Ibunya menangis. Mereka masuk rumah dan makan makanan kesukaan Jimmy. Jimmy tak pernah melupakan pertemuannya dengan Ian si pesulap misterius. “Selamat berbahagia, Jimmy,” bisik Ian si pesulap. Lalu ia menghilang meninggalkan taburan debu bercahaya. ****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *