Penumpasan G-30 S/PKI

Sumber gambar dari Google

Pada tanggal 1 Oktober 1965 PKI telah melakukan kudeta untuk mengganti dasar negara yang sah dengan ideologi komunis.

upaya itu dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.
  1. Menculik para perwira angkatan darat, karena dianggap menghalang-halangi tujuan PKI.
  2. Menduduki kantor-kantor penting seperti RRI, Telkom, Bandara Halim Perdana KUsuma dan Istana Merdeka.
  3. Tanggal 1 Oktober 1965 pukul 07.00 lewat RRI yang berhasil mereka kuasai, Letkol Untung menyampaikan beberapa pengumuman penting, yaitu sebagai berikut.
  • Telah dibentuk Dean Revolusi yang diketuai oleh Letkol Untung dengan 45  anggota.
  • Penghapusan pangkat Jendral; pangkat tertinggi ABRI hanya Letkol. Bagi mereka yang berpangkat Jendral harus menyatakan setia pada Dewan Revolusi.
  • Pada siang harinya kabinet Dwikora didemisioner.
  • bagi anggota ABRI yang ikut kudeta pangkatnya naik satu tinggkat dan ikut membersihkan gerakan Dewan Jendral naik dua tinggkat.

Setelah diketahui bahwa pelaku G 30 S adalah PKI maka panglima Kostrad segera mengambil alih kepemimpinan karena seniornya telah diculik dan dibunuh PKI.

  1. Langkah-langkah Penumpasan G 30 S/PKI

Setelah diketahui bahwa pelaku kudeta adalah PKI maka Pangkostrad Mayjen Soeharto segera mengambil langkah-langkah sebagai berikut.

  1. mengkoordinasi semua angkatan (AD, AL dan POLRI) kecuali TNI AU.
  2. memberi penjelasan Batalyon 454 Diponegoro dan Batalyon 530 Brawijaya yang datang ke jakarta dan diperalat PKI.
  3. Tangal 1 Oktober pukul 19.00 sore kesatuan Kostrad menggerakkan pasukannya untuk merebut RRI, gedung Telkom, Monas dan Istana Merdeka yang dipimpin Kol. Sarwo Edi Wibowo
  4. Setelah RRI berhasil dikuasai pukul 20.10 WIB, Pangkostrad Mayjen Soeharto menyampaikan pidato yang isinya:
    • Telah ada kerja sama yang baik antara angkatan (AD, AL dan Kepolisian), oleh karena itu rakyat supaya tenang.
    • G 30 S/PKI adalah gerakan pengkhianatan karena:
      • telah membentuk Dewan Revolusi dan
      • mendemisionerkan kabinet Dwikora

  5. Tanggal 2 Oktober 1965 Bandara Halim Perdana Kusuma berhasil direbut.
  6. Operasi diteruskan pencarian para korban. Atas petunjuk Ajun Brigadir Polisi Sukitman, tempat pembuangan para perwira ditemukan yakni di sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya.
  7. Tanggal 4 Oktober 1965 para korban mulai diangkat dari sumur tua tersebut dan tanggal 5 Oktober 1965 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Berdasarkan Keppres No. 111/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965 mereka diangkat menjadi pahlawan Revolusi dan pangkatnya dinaikkan setingkat secara anumerta.

    Operasi penumpasan G 30 S/PKI dilanjutkan ke daerah-daerah yang mendukung PKI seperti berikut.
    1. Di Semarang Kol. Sohirman, asisten inteligen Kodam VII Diponegoro menguasai RRI dan mengumumkan G 30 S/PKI dibawah pimpinannya.
    2. Di Solo, walikota Oetomo Ramelan menyatakan mendukung PKI.
    3. Di Yogyakarta, Mayor Mulyono menculik atasannya sendiri yaitu Kol. Katamso Komandan Korem 072 dan Letkol Soegiyono.

    Untuk menumpas gerakan 30 S/PKI diatas, Pangdam VII Diponegoro Brigjend Suryo Sumpeno memimpin operasi pemumpasan. Dalam operasi tersebut berhasil ditangkap seperti Aidit ditangkap di Sambeng – Solo dan Letkol Untung di Tegal. Mereka diadili di Mahmilub dan dijatuhi hukuman mati.

    2. Pembekuan PKI dan Ormasnya
    Karena tindakannya yang jelas-jelas mengkhianati bangsa dan negara, beberapa daerah melakukan tindakan pembekuan terhadap kegiatan PKI dan ormasnya.
    Di Jakarta Pangdam V Jaya selaku penguasa pelaksana perang daerah Jakarta Raya pada tanggal 16 Oktober 1965 membekukan aktivitas PKI dan tujuh ormasnya. Ketujuh ormas itu adalah Pemuda Rakyat, Gerwani, BTI, CGMI, Perhimpunan Mahasiswa Indonesia, IPPI, Himpunan Sarjana Indonesia, dan SOBSI menyusul dibekukan pada 27 Oktober 1965.
    Di Jawa Timur Pangdam VIII Brawijaya selaku Penguasa Pelaksana Perang Daerah (Pepelrada) Jawa Timur, pada tanggal 22 Oktober 1965 membekukan seluruh kegiatan PKI dan seluruh ormasnya.
    Tindakan serupa dilakukan Pangdam VII Diponegoro selaku Pepelrada Jawa Tengah dan Yogyakarta menyatakan bahwa mulai tangal 26 Oktober 1965 seluruh Jawa Tengah dan Yogyakarta dinyatakan dalam keadaan perang. Jam malam diberlakukan sejak pukul 17.30 hingga 06.30 pagi. Keputusan tersebut diatas kemudian disahkan dengan Keppres No. 140/KOTI/1965 dan 141/KOTI/1965.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *