Tentang Surga (2)

Inilah. Jika anda bertanya tentang hari penambahan, hari kunjungan kepada Allah Al-Aziz Al-Hamid dan melihat Wajah-Nya yang bersih dari peumpamaan, maka seperti anda melihat matahari di siang bolong dan rembulan pada saat purnama sebagaimana disabdakan orang yang paling benar ucapannya. Itu semua ada dalam buku-buku hadist yang shahih, sunan-sunan dan musnad. Diantaranya adalah hadist riwayat Jarir, shuhaib, Anas, Abu Hurairah, Abu Musa dan Abu sa’id. Coba dengarkan ketika penyeru memanggil, “Wahai sekalian penghuni surga, sesungguhnya Rabb kalian meminta kalian berkunjung kepada-Nya, maka mari kita berkunjung kepada-Nya!” penghuni surga menjawab, “Kami dengar dan patuh.” Kemudian mereka segera berdiri untuk berkunjung kepada-Nya. Mereka terkejut tiba-tiba unta telah disiapkan untuk mereka. Lalu mereka naik ke atas unta tersebut dan berjalan dengan cepat hingga berhenti di lembah yang harum yang dijadikan tempat untuk berkumpul. Mereka berkumpul di lembah tersebut. Tidak ada satupun malaikat yang meninggalkan mereka sendirian. Rabb Tabaraka wa Ta’ala meminta kursi-Nya diambil lalu kursi tersebut ditempatkan di lembah tersebut. Dan bagi mereka disiapkan mimbar dari cahaya, mutiara lu’lu’, mutiara zabarjad, emas dan perak. Penghuni surga yang paing rendah kelas dan sebenarnya tidak ada yang paling rendah kelasnya, duduk diatas bukit pasir dari kesturi. Mereka tidak pernah melihat ada orang yang mempunyai kursi seindah kursi mereka. Hingga ketika mereka telah duduk di kursinya masing-masing dan tempat mereka aman, penyeru memanggil, “Wahai penghuni surga, sesungguhnya kalian mempunyai janji disisi Allah yang hendak Allah berikan kepada kalian.” Mereka berkata, “Janji apa yang dimaksud? Bukankah Allah telah membuat wajah kami putih, memperberat timbangan kami, memasukkan kami ke dalam surga dan menjauhkan kami dari neraka?” Ketika mereka dalam keadaan sperti itu, tiba-tiba sinar memancar. surga bercahaya karena sinar tersebut. Mereka mengangkat kepalanya ternyata Allah Al-Jabbar Yang Mahamulia dan suci asma’-Nya melihat mereka dari atas mereka dan berfirman, “Wahai penghuni surga, salam sejahtera untuk kalian.” salam tersebut, mereka jawab dengan suara mereka yang paling merdu, “Ya Allah, Engkau adalah kesejahteraan dan dari Engkaulah kesejahteraan itu. Engkau Mahamulia, Wahai Dzat yang mempunyai keagungan dan kebesaran.” Lalu Allah Tabaraka wa Ta’ala menampakkan Diri kepada mereka dan tertawa kepada mereka dan berfirman, “Wahai penghuni surga!” Pertama kali yang mereka dengar dari Allah adalah, “Mana hamba-hamba-Ku yang taat kepada-Ku tanpa melihat-Ku. Inilah hari penambahan itu!” Mereka bersepakat terhadap terhadap satu kalimat, “Kami telah ridha, maka ridhailah kami!” Allah berfirman, “Wahai penghuni surga, jika Aku tidak ridha kepada kalian, maka aku tidak menempatkan kalian ke dalam surga-Ku. Ini adalah hari penambahan, maka mintalah apa saja kepada-Ku!” Mereka bersepakat terhadap satu permintaan, “Perlihatkan Wajah-Mu agar kami bisa melihat-Nya!” Kemudian tirai dibuka dan Allah terlihat oleh mereka. Cahaya Allah menutupi mereka. sekiranya Allah memutuskan mereka terbakar, maka mereka pasti terbakar. semua yang ada dalam lembah tersebut berbicara dengan Allah hingga Allah berkata, “Hai Fulan, ingatkah engkau bah8a pada suatu hari engkau melakukan ini dan itu?” Allah Ta’ala juga menyebutkan beberapa pelanggaran yang telah dikerjakannya. Kata orang tersebut, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau tidak memberi ampunan kepadaku?” Firman Allah, “Justru karena ampunan-Ku, engkau tiba di tempatmu ini”
Duhai, betapa nikmatnya telinga mendengar suara tersebut. Betapa sejuknya mata melihat Wajah Allah Yang Mahamulia di negeri akhirat. Dan alangkah ruginya orang-orang yang kembali dengan membawa kerugian.
“Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang-orang kafir) pada hari itu muram. Mereka yakin akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat” (Al-Qiyamah: 22-25)
seorang penyair berkata,

“Mari kita menuju surga Aden
karena ia adalah tempat tinggal kita yang pertama
dan dalamnya terdapat kemah-kemah
namun tragisnya kita tertawa oleh musuh
duhai, dapatkah suatu saat kita pulang ke tanah air kita dengan selamat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *