Kedatangan Ibnu Bathuthah ke Nusantara

Sultan Jawa (Pada masa lalu Nusantara disebut Jawa oleh orang-orang Arab) bernama Sultan Malik Azh-Zhahir. Ia termasuk sosok yang disegani dan dihormati. Lebih dari itu, ia termasuk penganut Mazhab Syafi’i. Ia juga sangat mencintai para fuqaha yang datang ke majelisnya untuk bertukar pendapat. masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang senang berjihad dan berperang, namun juga rendah hati. Ia datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat dengan berjalan kaki. Para penduduk Jawa (Nusantara) mayoritas bermazhab Syafi’iyyah. Mereka senang berjihad bersama sultan, hingga mereka memenangkan peperangan melawan orang-orang kafir. Bahkan, orang-orang kafir membayar jizyah kepada sultan sebagai bentuk perdamaian.
Ketika kami hendak memasuki istana sultan, di dekatnya kami menjumpai beberapa tombak ditancapkan di kanan dan kiri jalan. Ini sebagai tanda supaya orang yang berkendara diharap turun. Akhirnya kami turun dan masuk ke balai istana. Di sana kami berjumpa dengan wakil sultan yang bernama Umdatul Malik. Ia berdiri mengucapkan salam sambil menyalami kami. Kemudian kami duduk bersamanya. Tidak lama kemudian, ia menulis surat kepada sultan untuk memberitahukan kedatangan kami. Lalu surat itu dilipat dan diberikan kepada pelayannya. Biasanya, jawaban dari sultan akan ditulis dibalik surat tersebut. Beberapa saat kemudian, pelayan datang sambil membawa kotak pakaian. Wakil sultan mengambilnya dan aku juga ikut mengambilnya. Setelah itu aku dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan peristirahatan. Biasanya, wakil sultan pergi ke balai istana sesudah shalat subuh dan tidak pulang kecuali setelah shalat isya’ akhir. Begitu juga para menteri dan pembesar kerajaan. Wakil sultan mengambil tiga jenis kain dari kotak pakaian tersebut: yang pertama, kain sutra murni; yang kedua kain sutra bercampur katun; dan yang ketiga kain sutra bercampur kapas.
Kemudian para pelayan datang membawa makanan. Makanan yang dikeluarkan berupa nasi dengan beraneka ragam lauk. Setelah itu, didatangkan daun sirih sebagai pertanda acara selesai. Kami lalu mengambil daun sirih tersebut dan berdiri. Wakil sultan juga berdiri untuk menghormat kami. Kami lalu keluar dari balai dan menuju kuda tunggangan. Wakil sultan juga mengambil kuda tunggangan. Setelah itu, kami pergi ke sebuah kebun yang diberi pagar kayu. Ditengah-tengah kebun terdapat rumah yang terbuat dari kayu. Di bagian bawah rumah tersebut dihampari tikar.
Menurut kebiasaan sultan bahwa tamu yang datang dari jauh harus diterima menghadapnya tiga hari setelah tiba, agar letihnya perjalanan menjadi hilang. Aku kemudian ditempatkan di bait adh-dhuyuf (wisma tamu) yang terletak di tengah-tengah taman yang rindang, dengan pepohonan hijau dan bunga-bunga beraneka rupa. Para pelayan di wisma tamu itu terdiri dari anak-anak muda yang peramah. Kecuali nasi dan roti semacam martabak (roti cane), aku dihidangi aneka buah-buahan, seperti pisang, apel, anggur, rambutan, dan sebagainya. hari keempat, aku masih beristirahat di wisma tamu yang mewah itu. Saat itu, kebetulan hari Jumat. Menteri Luar Negeri Al-Isfahany memberitahuku bahwa aku akan diterima menghadap sultan setelah shalat Jumat, bertempat di aula khusus masjid jami’ itu. Setelah semua berkumpul, aku memperhatikan, yang mana Sultan Malik Azh-Zhahir diantara ribuan jamaah masjid jami’ yang luas itu. Semua orang sama, berpakaian putih. Juga tidak tersedia tempat khusus bagi sultan dan tidak ada orang yang diberi penghormatan seperti layaknya para raja di zaman itu. “Apakah sultan sakit sehingga tidak ke Masjid?” tanyaku dalam hati. Selesai shalat Jumat, Al-Isfahany mempersilahkan aku memasuki aula masjid yang luas itu, dan aku diperkenalkan kepada Sultan Malik Azh-Zhahir yang telah terlebih dahulu masuk ke aula dan masih berpakaian putih. Di dalam aula yang berwibawa  itu, telah datang terlebih dahulu para menteri, para ulama terkemuka, para pemimpin rakyat, dan para wanita yang memakai jilbab. Aku didudukkan disebelah kanan sultan. Selesai makan siang bersama, dilanjutkan dengan diskusi yang membahas berbagai masalah dalam negeri dan agama, juga masalah ekonomi, kesejahteraan rakyat, sosial budaya, dan sebagainya. Diskusi yang berlangsung hampir tiga jam itu sangat menarik. Semula yang hadir mengemukakan pendapatnya masing-masing, sekalipun kadang-kadang mengeritik kebijaksanaan sultan. Semua pendapat diterima sultan dengan senyum yang sejuk. Setelah waktu shalat ashar, semua kembali keruang masjid dan sama-sama melakukan shalat. Usai shalat ashar, Sultan Malik Azh-Zhahir menghilang kedalam bilik khusus, dan lima belas menit kemudian beliau keluar sudah bukan demgam pakaian putih lagi, tetapi dengan pakaian kebesaran raja. Dengan menunggang kuda dan diiringi para pengawalnya, sultan pulang ke istana. Dikiri dan kanan jalan rakyat berjejer mengelu-elukan sultan yang adil itu. Aku berpikir, rupanya waktu berangkat dari istana menuju masjid, sultan hanyalah hamba Allah yang biasa seperti rakyat lainnya, tetapi waktu pulang ke istana barulah beliau tampil sebagai sultan dari kerajaan Samudra Pasai.
Aku mendapati bahwa kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama yang berdiri di tanah melayu. Ternyata, kerajaan Samudra Pasai telah mempunyai tamaddun (peradaban) dan hubungan luar negeri yang baik. Di Aceh aku tinggal selama 15 hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Cina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *